This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 03 Maret 2017

Mengenal Konsep Pertanian Modern Bertenaga Surya

Pembangunan perumahan, apertemen, mal, dan kawasan industri yang semakin marak membuat lahan pertanian semakin sempit. Hal ini mengakibatkan produksi pangan mulai terancam akibat keterbatasan lahan.
Baru-baru ini muncul pertanian terapung. Konsep pertanian ini dikembangkan oleh biro arsitektur dari Barcelona. Teknologi ini diberi nama Smart Floating Farms (Pertanian Pintar Terapung). Konsep ini didesain untuk melengkapi pertanian tradisional.
Lahan pertanian terapung ini bertenaga panel surya dan terdiri atas modul-modul yang bisa digunakan pada muka air yang kurang terpakai. Alat ini dapat menjadi media untuk meningkatkan ketahanan pangan dalam jangka panjang.
Smart Floating Farms (SFF) didesain sangat pintar dan beroperasi secara otomatis dengan mengombinasikan tenaga surya, pertanian hidroponik, dan budidaya ikan.
Menurut arsiteknya, proyek SFF ini dirancang untuk keperluan komersial dengan bahan-bahan dan teknologi yang sudah teruji. Kebun ini akan bisa digunakan di permukaan perairan untuk mengurangi ketergantungan terhadap makanan impor atau mengurangi jejak karbon pada makanan.
Bentuk SFF terinspirasi oleh konfigurasi tradisional yang digunakan oleh keramba jaring apung di banyak negara di Asia. Setiap modul yang ringan ini berukuran 200 × 350 meter dan bisa dihubungkan dengan modul lain untuk membentuk klaster kebun dalam jangkauan pejalan kaki. Walaupun fokusnya pada perkebunan, proyek ini juga bisa digunakan untuk penelitian atau edukasi.
Modul SFF ini terdiri atas 3 tingkat, yaitu level dasar untuk budidaya ikan dan teknologi pemurnian air laut, level di atasnya untuk perkebunan hidroponik, sedangkan bagian atap untuk pembangkit listrik tenaga surya, pencahayaan alami, dan pengumpul air hujan.
Dengan menggunakan modul yang bisa digabungkan, SFF dapat diperbesar, diadaptasikan dan efisien dalam sumber daya. Setiap modul diestimasi dapat memproduksi 8.152 ton sayuran per tahun dan 1.703 ton air per tahun.

Wow Hebat, Kulit Pisang Dijadikan Energi Listrik!

Apakah yang Anda lakukan setelah makan pisang? Pasti akan langsung membuang kulitnya bukan? Namun, tidak halnya dengan tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur ini. Ketiga mahasiswa tersebut menciptakan energi listrik dari kulit pisang!
Ketiga mahasiswa itu memproduksi energi listrik yang memanfaatkan bakteri anaerob dari pembusukan limbah kulit pisang yang diberi nama Mikrobial Fuellcell.
“Konsep ini masih jarang. Biasanya yang diolah kan limbah cair, tapi kami olah limbah padat. Kulit pisang mudah didapat, mulai dari penjual pisang goreng hingga di daerah industri keripik pisang,” ujar salah seorang mahasiswa pencipta Mikrobial Fuellcell, Chrisma Virginia.
Selain Charisma, mahasiswa lain yang tergabung dalam penciptaan Generator Listrik dari Limbah Kulit Buah Pisang Mikrobial Fuellcell itu adalah Muhammad Errel Prasetyo dan Sang Aji Arif Setyawan.
Ide tersebut berawal dari kian berkurangnya sumber daya alam minyak bumi sebagai sumber energi utama sehingga perlu ada pengganti energi yang bisa diperbarui dan berkelanjutan. “Kami memilih kulit pisang, karena potensinya sangat besar dan bisa didapatkan kapan saja dan di mana saja,” ujarnya.
Ia menjelaskan cara kerja alat tersebut, pertama menghancurkan kulit pisang dengan cara ditumbuk, tetapi tidak boleh ditambah air karena akan berkurang substratnya. Selanjutnya, kulit yang sudah halus seperti bubur dimasukkan dalam kotak reaktor atau bio chamber.
Kotak reaktor itu, katanya, dibagi dua, yakni kotak anoda dan katoda. Pada setiap kompartemen terdapat elektroda. Pada anoda, diisi kulit pisang yang halus, sedangkan kotak katoda diisi aquades. Prinsip kerjanya cukup mudah, yakni kulit pisang akan difermentasi mikroba dan menghasilkan elektron yang dialirkan dari anoda ke katoda.
Dari kedua kotak tersebut, akan menghasilkan listrik sebesar 1,5 volt dan mampu menghidupkan lampu LED merah. Saat ini, tim tersebut masih mencari cara agar alatnya bisa menghasilkan 5 volt listrik sehingga bisa menyalakan lampu dan mengisi powerbank.

Hidroponik Menjadi Tren Bercocok Tanam Masa Kini

Budidaya tanaman yang mengaplikasikan metode hidroponik membuat nilai ekonomis citra beberapa tanaman sayur seperti kangkung di mata masyarakat meningkat. Bisa dikatakan bahwa omset budidaya kangkung secara hidroponik meningkat hingga 300% dibanding menerapkan sistem budidaya konvensional.
Tren bertanam secara hidroponik menjadi dua macam, yakni berhidroponik sebagai hobi atau berhidroponik untuk menjalankan usaha. Bahkan hingga saat ini, banyak orang berlomba-lomba menjalankan usaha budidaya secara hidroponik. Hal inilah yang bisa dikatakan bahwa tren hidroponik semakin meningkat di masyarakat.
Untuk memulai budidaya secara hidroponik, Anda tidak lagi dituntut untuk memiliki lahan yang luas. Oleh karena itulah, tren hidroponik masih sangat digemari. Pasalnya, potensi yang dihasilkan dari bercocok tanam secara hidroponik memiliki keunggulan tersendiri, baik itu membudidayakan tanaman sayur maupun tanaman buah.
Berikut ini perkembangan tren hidroponik untuk skala usaha.
  1. Tidak tergantung pada kondisi tanah
Jika Anda menjalankan usaha budidaya sayuran dengan sistem konvensional, pasti produksi tanaman yang akan dibudidayakan tergantung pada besaran luas lahan bukan?! Ditambah lagi faktor keberhasilan suatu budidaya juga dilihat dari kandungan unsur hara pada tanah. Jika melakukan budidaya dengan metode hidroponik, Anda sama sekali tidak berkaitan dengan tanah pada keseluruhan proses budidayanya.
  1. Tidak tergantung pada iklim
Beberapa negara dengan iklim dan cuaca ekstrem seperti di Timur Tengah pada umumnya sangat sulit membudidayakan sayuran karena tidak dapat tumbuh atau pertumbuhannya tidak akan maksimal. Dengan begitu, negara-negara tersebut harus impor untuk mendapatkan sayuran. Kini, dengan adanya teknik menanam secara hidroponik halangan cuaca dan iklim dapat diminimalisir.
  1. Masa panen lebih cepat
Pemberian nutrisi secara cepat dan tepat sesuai kebutuhan masing-masing tanaman membuat pertumbuhan tanaman hidroponik maksimal dan dapat dipanen lebih cepat dibanding sistem konvensional. Panen pada berbagai jenis sayuran hidroponik lebih cepat 30—50% daripada yang ditanam dengan sistem konvensional.
  1. Hasil panen lebih bersih dan segar
Hasil panen sayuran hidroponik lebih disukai oleh konsumen karena penampilannya yang segar. Hal ini karena pada budidaya hidroponik pertumbuhan tanaman terjadi sangat maksimal yang membuat tampilan sayuran berbeda dengan sayuran yang ditanam dengan sistem konvensional.
  1. Biaya operasional lebih murah
Biaya operasional produksi sayuran seperti pupuk (nutrisi) dan penggunaan air untuk menyiram dapat diefisienkan pada hidroponik karena pemberian nutrisi dapat disesuaikan dan dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga tidak ada nutrisi yang terbuang.
Selain efisien nutrisi, hidroponik juga sangat irit penggunaan air karena air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tidak perlu disiram secara rutin, tetapi cukup sekali memberikan air yang dicampurkan dengan nutrisi yang kemudian diletakkan di bagian bawah tanaman ataupun dialirkan secara teratur.

Menteri Malaysia Puji Pertanian Indonesia


Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia, Dato' Sri Ahmad Shabery Cheek, mengapresiasi upaya pemerintah Indonesia dalam mengembangkan pertanian dalam negeri.
"Saya begitu terinspirasi sekali dengan kejayaan yang telah ditunjukkan oleh Indonesia, negara pengimpor jagung. Akhirnya, sekarang ini mencukupi untuk kegunaan sendiri," ucapnya di Kementerian Pertanian Jakarta, Jumat 3 Maret 2017.
Ia mengatakan, Malaysia saat ini masih bergantung 100 persen untuk memenuhi kebutuhan jagung dalam negerinya. Mereka mengimpor jagung dari Argentina dan Amerika Serikat.
"Yang kita ambil dari negara-negara yang sangat jauh dari Malaysia. Dan, kita rasakan, ini bukanlah suatu yang mustahil untuk kita bangunkan sendiri berdasarkan kepada upaya yang ditunjukkan oleh Indonesia," ujarnya.
Ajakan kerja sama Pemerintah Indonesia dalam pembangunan pertanian di daerah perbatasan antara Malaysia dan Indonesia pun, ia katakan, adalah ide bagus untuk diimplementasikan bersama.
Menurutnya, itu bukan hal yang mustahil, lantaran kondisi geografis dan iklim Indonesia dengan Malaysia tidak jauh berbeda.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, akan membangun pertanian di wilayah perbatasan, yaitu Entikong, Kalimantan Barat dan Serawak di Malaysia. Kesepakatan bilateral pembangunan kawasan di perbatasan terkait dalam hal budidaya jagung, beras, dan pengembangbiakan sapi.
"Saya bawa pejabat terkait pertanian Serawak, untuk memudahkan hasrat, atau pun cita-cita melihat perbatasan dengan jagung, pemeliharaan sapi, begitu juga beras organik," ungkapnya.
Tahap pertama realisasi kerja sama ini dilakukan untuk budidaya jagung pada pertengahan 2017, dengan kebutuhan Malaysia sekitar tiga juta ton per tahun. Amran mengatakan, kebutuhan Malaysia baru dapat dipenuhi secara bertahap selama tiga tahun.
"Paling lambat pertengahan 2017, kita sudah tanam perdana di perbatasan. Ini adalah perintah Bapak Presiden, membangun di perbatasan bersama negara-negara tetangga," ujar Amran.
Ia mengungkapkan, untuk memenuhi tiga juta ton jagung diperkirakan dibutuhkan lahan 700 ribu-1 juta hektare. Saat ini, tersedia ada 60 ribu ha di Serawak dan 50 ribu ha di Entikong, Kalimantan Barat. Indonesia.
"Tetapi, mungkin bisa berkembang lagi di sana (perbatasan Indonesia) 100 ribu ha. Indonesia harus pacu tingkatkan 500 ribu ha," ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Malaysia juga meminta Pemerintah Indonesia mengekspor bibit jagung ke Malaysia. "Mereka juga memohon bibit dari Indonesia, perkiraan bisa 10 ton per ha," ungkap Amran.